Monday, December 16, 2019

ARTIKEL 8 SIDS


PYTHON

Python adalah bahasa pemrograman tujuan umum tingkat tinggi yang ditafsirkan. Diciptakan oleh Guido van Rossum dan dirilis pertama kali pada tahun 1991, filosofi desain Python menekankan keterbacaan kode dengan penggunaan spasi spasi yang signifikan. Konstruk bahasanya dan pendekatan berorientasi objek bertujuan untuk membantu programmer menulis kode yang jelas dan logis untuk proyek skala kecil dan besar. [27]

Python diketik dan dikumpulkan secara dinamis. Ini mendukung beberapa paradigma pemrograman, termasuk pemrograman prosedural, berorientasi objek, dan fungsional. Python sering digambarkan sebagai bahasa "termasuk baterai" karena pustaka standarnya yang komprehensif. [28]

Python dikandung pada akhir 1980-an sebagai penerus bahasa ABC. Python 2.0, dirilis pada tahun 2000, memperkenalkan fitur-fitur seperti pemahaman daftar dan sistem pengumpulan sampah yang mampu mengumpulkan siklus referensi. Python 3.0, dirilis pada 2008, adalah revisi utama dari bahasa yang tidak sepenuhnya kompatibel dengan mundur, dan banyak kode Python 2 tidak berjalan tanpa dimodifikasi di Python 3.

Bahasa Python 2, yaitu Python 2.7.x, adalah "sunsetting" dalam waktu kurang dari satu bulan pada tanggal 1 Januari 2020 (setelah perpanjangan; pertama kali direncanakan untuk tahun 2015), dan tim sukarelawan Python tidak akan memperbaiki masalah keamanan, atau memperbaikinya dengan cara lain setelah tanggal tersebut. [29] [30] Dengan akhir masa pakainya, hanya Python 3.5.x dan yang lebih baru yang akan didukung.

Penerjemah python tersedia untuk banyak sistem operasi. Komunitas global programmer mengembangkan dan memelihara CPython, sebuah implementasi referensi open source [31]. Organisasi nirlaba, Yayasan Perangkat Lunak Python, mengelola dan mengarahkan sumber daya untuk pengembangan Python dan CPython.
Send feedback
History
Saved
Community
intaks dan semantikArtikel utama: Sintaks dan semantik PythonPython dimaksudkan sebagai bahasa yang mudah dibaca. Formatnya tidak berantakan secara visual, dan sering menggunakan kata kunci bahasa Inggris di mana bahasa lain menggunakan tanda baca. Tidak seperti banyak bahasa lain, itu tidak menggunakan kurung keriting untuk membatasi blok, dan titik koma setelah pernyataan adalah opsional. Ini memiliki lebih sedikit pengecualian sintaksis dan kasus khusus daripada C atau Pascal. [61]




ARTIKEL 7 SIDS

D3.js/Data-Driven Documents



ARTIKEL 6 SIDS

7 Alat Geoprosesing


1 The Buffer Tool

Buffer adalah fungsi kedekatan. Ketika Anda menggunakan alat geoproses ini, itu menciptakan poligon pada jarak yang ditentukan di sekitar fitur.

Misalnya, buffer adalah poligon atau kumpulan sel yang berada dalam jarak tertentu dari serangkaian fitur.

Buffer dapat memiliki jarak tetap dan variabel. Selain itu, mereka dapat diatur ke geodesik yang menyumbang kelengkungan Bumi.

IDW Search Radius

2 The Clip Tool


Alat klip adalah fungsi overlay yang memotong lapisan input dengan batas batas fitur yang ditentukan. Hasil dari alat ini adalah lapisan keluaran terpotong baru.

Jika Anda dapat menggambarkan pemotong kue, ini seperti menggunakan alat klip. Dan mengukir vektor dan raster adalah salah satu operasi yang paling umum di GIS.

Untuk klip data, Anda perlu titik, garis atau poligon sebagai input dan poligon sebagai batas kliping. Data yang disimpan adalah hasil klip.
Clip Tool

3 The Merge Tool

The merge geoprocessing tool combines data sets that are the same data type (points, lines or polygons). When you run the merge tool, the resulting data will be merged into one.
Similar to clip, we use the merge tool on a regular basis. For merging, data sets have to be the same type. For example, you can’t merge points and polygons into one data set.
Merge Tool


The Dissolve Tool

The Dissolve Tool menyatukan batas berdasarkan nilai atribut umum. Dengan kata lain, bubar menggabungkan batas tetangga jika tetangga memiliki atribut yang sama.
Misalnya, jika Anda ingin menghapus perbatasan negara untuk membentuk benua, alat yang larut adalah alat untuk digunakan. Tetapi Anda membutuhkan atribut untuk setiap negara dan benua yang dimilikinya.


Dissolve Tool


5 The Intersect Tool


Intersect Tool sangat mirip dengan clip tool karena luasan fitur input menentukan output. Satu-satunya pengecualian adalah mempertahankan atribut dari semua set data yang tumpang tindih satu sama lain dalam output.

Intersect Tool melakukan tumpang tindih geometris. Semua fitur yang tumpang tindih di semua lapisan akan menjadi bagian dari kelas fitur keluaran - atribut dipertahankan.

Tambahkan beberapa input. Alat menerima berbagai tipe data (titik, garis, dan poligon). Ketika fitur saling tumpang tindih, mereka akan berada di output. Intersect Tool mempertahankan nilai atribut di kedua lapisan input.

Intersect

6 The Union Tool

Ada yang mengatakan alat Union harus datang dengan sebotol antasid. Alat serikat mendapat reputasi buruk karena menciptakan banyak fitur. Alat Union mempertahankan semua batasan fitur input dan atribut di kelas fitur output.

Setelah menjalankan alat geoprocessing ini, itu menjadi sedikit berantakan terutama ketika ada lebih banyak tumpang tindih. Tapi itu tidak terlalu buruk. Alat Union secara spasial menggabungkan dua lapisan data. Ini mempertahankan fitur dari kedua lapisan pada luasan yang sama

7 The Erase (Difference) Tool

Erase Tool
Saya suka alat hapus. Selalu membantu dalam menghapus sesuatu! Lapisan input adalah apa yang akan dihapus. Fitur hapus menentukan apa yang akan dihapus. Sederhana seperti itu.

Erase Tool menghapus fitur yang tumpang tindih dengan fitur hapus. Alat geoproses ini mempertahankan bagian fitur input yang berada di luar batas fitur hapus. Hasilnya adalah fitur baru dengan tingkat fitur hapus dihapus.

Sunday, October 13, 2019

ARTIKEL 5 SIDS

Measurement


Measurement
 Sistem Informasi Geografi (SIG) adalah kumpulan perangkat keras, perangkat lunak, data geografi, dan personil yang terorganisir untuk memperoleh, menyimpan, meng-update, memanipulasi, menganalisis, dan menampilkan semua bentuk informasi bereferensi geografi (ESRI,1990). Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan suatu sistem yang digunakan untuk menyimpan, mengolah, menganalisis, dan menghasilkan data geospasial. Pendekatan dalam Sistem Informasi Geografis bertujuan untuk mempermudah penyelesaian masalah dalam lingkup geografi. 

        SIG memiliki empat fungsi utama, yakni mapping, monitoring, measurement, modelling. Fungsi Mapping ialah penggunaan data geospasial untuk pemetaan di berbagai bidang seperti penggunaan lahan, kelautan, studi perkotaan dan sebagainya. Fungsi monitoring ialah penggunaan data geospasial yang multitemporal untuk melihat perubahan suatu bidang kajian dalam berbagai bidang kegeografian. Fungsi measurement ialah penggunaan data geospasial dalam SIG untuk melakukan pengukuran, seperti pengukuran perubahan garis pantai, pengkukuran volume Daerah Aliran Sungai (DAS), dan lain-lain. Fungsi modelling ialah pemodelan untuk menganalisis data geospasial dengan berbagai macam model proses dalam SIG.

Measurement (Pengukuran)
Pengukuran merupakan metode yang digunakan untuk menghitung jumlah dari point, panjang dari line, dan luas (area) atau keliling (perimeter) dari polygon. 

Jenis Measurement (Pengukuran)
Raster GIS Measurement
Vector GIS Measurement

Raster GIS Measurement
1. Pythagorean Distance / Euclidean Distance
Menghitung panjang atau jarak antara dua titik menggunakan rumus pythagoras.

2. Manhattan Distance
Menghitung panjang atau jarak antara dua titik dengan menghitung jumlab sel yang dilalui oleh garis tersebut.

3. Proximity Distance
Menghitung panjang atau jarak antara dua titik dengan perkiraan. Proximity mirip dengan pythagorean, tetapi diterapkan pada setiap pixel. 

4. Perimeter and Area
Menghitung keliling (perimeter) dan luas (area) dari sebuah polygon dengan menggunakan rumus geometri dengan satuan cell unit.

contoh dari masing-masing pengukuran:




Vector GIS Measurement
Pada pengukuran vektor, pengukuran panjang atau jarak menggunakan rumus pythagoras, dan pengukuran luas dan keliling menggunakan rumus geometri.

contoh pengukuran vektor:

Query
Query merupakan cara untuk mengambil data pada database. Beberapa operator boolean yang sering digunakan untuk menggabungkan beberapa query dengan kondisi yang diperlukan

ARTIKEL 4 SIDS

analisis data spasial



Manfaat Menggunakan Sistem Informasi Geografis
Sistem Informasi Geografis
Manfaat penggnaan Sistem Informasi Geografis yaitu dapat memudahkan kita untuk melihat fenomena kebumian dengan perspektif yang lebih baik, dengan pemrosesan data yang lebih cepat, untuk mendapatkan hasil analisa yang lebih akurat.
Sistem Informasi Geografi dapat menghubungkan data spasial seperti letak geografis dan astronomis dengan data non spasial, sehingga dengan menggunakan sistem ini dapat membuat peta dan menganalisa informasinya dengan berbagai cara dan metode yang tepat.
Dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis, dimana data dapat tersimpan dalam bentuk digital dan data juga tersimpan lebih padat dibanding bentuk cetak, tabel atau yang lainnya. Dengan begitu dapat meringankan beban biaya produksi dan mempercepat cara pengerjaannya.
Ada dua keunggulan dalam menggunakan Sistem Informasi Geografis, antara lain:
• Analisa Proximity
Analisa proximity merupakan analisa geografis dengan berbasis pada jarak dan layer. Dimana dengan menggunakan analisa ini kita dapat melihat jarak tertentu suatu lokasi untuk menentukan dekatnya suatu hubungan antara sifat bagian yang ada.
• Analisa Overlay
Analisa overlay merupakan suatu proses integrasi data dari lapisan- lapisan layer yang berbeda. Dalam menganalisa suatu keadaan dibutuhkan lebih satu layer yang berbeda dan disusun secara fisik agar dapat dianalisa secara visual.
Tujuan Penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG)
Sistem Informasi Geografis
1. Untuk lingkup individu, Sistem Informasi Geografis sangat efektif untuk membantu proses pembentukan, pengembangan dan perbaikan peta mental yang sudah dimiliki oleh setiap orang yang berdampingan dengan dunia nyata.
2. Dalam lingkup pendidikan, Sistem Informasi Geografis dapat digunakan sebagai alat bantu utama dalam usaha meningkatkan pemahanan, pembelajaran dan pengertian mengenai ide atau konsep sebuah lokasi, ruang, kependudukan dan informasi geografis lainnya.
3. Dalam lingkup penelitian, Sistem Informasi Geografis dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap dan akurat terhadap suatu masalah nyata yang terkait dengan data spasial permukaan bumi. Selain itu, Sistem Informasi Geografis juga memiliki kemampuan yang baik dalam memvisualisasikan data spasial.
Sehingga dengan menggunakan sistem ini, maka akan mempermudah dalam modifikasi warna, ukuran simbol dan bentuk yang diperlukan untuk menggambarkan unsur- unsur permukaan bumi. Pengguna juga dapat menginterprestasikan data yang didapat melalui Sistem Informasi Geografis secara manual.
Sumber Data Sistem Informasi Geografis (SIG)
Sistem Informasi Geografis
Sumber data dari Sistem Informasi Geografis bisa didapat dari:
• Data lapangan, dimana data tersebut dapat diperoleh secara langsung dengan melakukan pengamatan dan observasi di lapangan dengan cara mengukur dan menghitungnya.
• Data peta seperti posisi geografis Indonesia, data ini dapat diperoleh dari informasi yang tercetak pada peta/ flm.
• Data penginderaan jauh, yang mana merupakan data hasil pengamatan dari citra satelit atau sering disebut juga foto udara.
Perbedaan antara Sistem Information Geografis Konvensional dan Ssitem Informasi Geografis Modern
Kita semua sadar bahwa pentingnya sebuah peta dalam kehidupan kita. Banyak hal yang dapat diselesaikan dengan mengambil sumber data dari sebuah peta. Data- data sejarah geografis pun dapat dilihat melalui peta. Bahkan, sangketa perebutan pulau sipadan, ligitan antara Indonesia dan Malaysia itu pun menyangkut sebuah peta.
Dalam konteks dua negara, ternyata persoalannya tidak hanya menyangkut tanda batasa secara fisik yang harus ada dan dipasang di lapangan. Masalah yang lebih penting yaitu diperlakukannya upaya bagaimana cara mempresenasikan batas negara tersebut di atas media informasi yang berbentuk peta dalam bentuk hardcopy atau dalam bentuk format softcopy atau digital yang lebih fleksible dalam penggunaannya.
Didalam proses pemetaan ini, Sistem Informasi Geografis baik digital maupun konvensional sangat dibutuhkan. Di atas telah dibahas tentang Sistem Informasi Geografis yang dijalankan secara modern. Dari apa yang telah Anda pelajari, maka dapat diambil kesimpulan bahwa untuk mengoprasikan Sisten Informasi Geografis secara modern dibutuhkan hardware dan software yang cukup mahal.
Adakah cara lain untuk mengoprasikan Sistem Informasi Geografis dengan sarana yang lebih murah? Jawabanya yaitu ada, cara pengoprasian Sistem Informasi Geografis secara manual. Sebelum SIG berkembang seperti sekarang ini, Sistem Informasi Geografis berawal dari sebuah gagasan yang menampilakan beberapa informasi di peta.
Gagasan tersebut yang kemudian dilakukan dengan overlay dua peta, kemudian semakin banyak peta yang akan dipadukan. Dalam proses tersebut kemudian ditemukan kesulitan apabila terlalu banyak peta yang harus dipadukan. Dari pemikiran tersebut yang mendasari perkembangan Sistem Informasi Geografis modern.
Software Sistem Informasi Geografi yang ada saat ini juga melalui tahapan perkembangan kecanggihan. Jadi perbedaan yang mendasar antar Sistem Informasi Geografis modern dan konvensional yaitu terdapat pada alat yang digunakan. Sistem Informasi Geografis modern atau digital selalu menggunakan seperangkat alat computer untuk program analisisnya.
Sedangkan Sistem Informasi Geografi konvensional dilakukan secara manual, seperti pada proses buffering pada gambar. Tidak hanya dalam proses buffering, semua proses dalam Sistem Informasi Geografis konvensional dilakukan secara manual dan semimanual atau perpaduan antara program digital dan dengan analisis manual.
Dengan beberapa informasi tentang Sistem Informasi Geografis, mulai dari pengertian, definisi, pengertian menurut para ahli, tujuan dan manfaat menggunakan Sistem Informasi Geografis, semoga dapat menambah wawasan Anda untuk mengetahui lebih jauh tentang Sistem Informasi Geografis. Dalam artikel di atas juga diulas perbedaan antara SIG modern dan SIG konvensional.

ARTIKEL 3 SIDS


SISTEM INFORMASI MANAJEMEN BASIS DATA SPATIAL

Konsep Manajemen Basis Data dalam SIG

  1. SIG Sebagai Basis Data
Saat ini  SIG dikembangkan dengan menggunakan sistem manajemen basis data (DBMS). Beberapa fakta menunjukan bahwa sebagian besar biaya sistem perangkat lunak SIG adalah biaya untuk DBMS-nya. Selain itu, DBMS memiliki dan menangani fungsi-fungsi yang sangat diperlukan oleh SIG.
Ada dua pendekatan umum untuk menggunakan DBMS dalam SIG:
  1. Pendekatan solusi DBMS  total – data spasial dan non-spasial diakses melalui DBMS.
  2. Pendekatan solusi kombinasi – tidak semua data diakses melalui DBMS karena data-data tersebut telah sesuai dengan modelnya.
Sistem Manajemen Basis Data SIG
slide_6

Tipe Data
  1. Data lokasi:
– Koordinat lokasi
– Nama lokasi
– Lokasi topologi (letak relatif: sebelah kiri danau A, sebelah kanan pertokoan B)
  1. Data non-lokasi:
– Curah hujan
– Jumlah panen padi
– Terdiri dari variabel (tanah), kelas (alluvial), nilai luas (10 ha), jenis (pasir)
  1. Data dimensi waktu (temporal):
–  non-lokasi di lokasi bersangkutan dapat berubah dengan waktu (misal: data curah hujan bulan Desember akan berbeda dengan bulan Juli)
  1. Basis Data                                    
Konsep bsis data (database) dapa dipandang dari beberapa sudut) dari sisi sistem, basis data merupakan kumpulan tabel yang salaing berhubungan. Sedangkan dari sisi manajemen, basis data merupakan kumpulan data yang memodelkan aktivias-aktivitas yang terdapat dalam perusahaan.
  1. Sistem Manajamen Basis Data
Sistem manejamen basis data (DBMS) merupakan kumpulan dari data yang saling berhubungan dengan sekumpulan program-program yang mengakses data tersebut. Perbedaan dengan basis data, DBMS merupakan paket perangat lunak general prupose yang digunakan untuk membangun sistem basis data tertentu. Dengan kata lain DBMS  adalah bagian dari sistem basisdata.
  1. Model Basis Data Relasional
Model basisdata yang paling terkenal dalam DBMS ini banyak digunakan dalam SIG. Beberapa DBMS yang menggunakan model basis data relasional:
  1. Dbase(*.dbf) – digunakan oleh ArcView, PC Arc/Info, dan SIG lain
  2. INFO – Digunakan di dalam Arc/Info
  3. Oracle –  Digunakan dalam Arc/Info, Geovision, dll
Sedangkan pengertian Model basis data relasional sendiri adalah merupakan model database berdasarkan logika urutan pertama, pertama sekali dirumuskan dan dikemukakan oleh Edgar F. Codd pada tahun 1969.[1] Pada model database relasional, seluruh data diwakili dalam bentuk tuple, digabungkan dalam relasi-relasi. Database yang diorganisasikan dalam hal model relasi merupakan database relasi.
Keunggulan Model Basis Data Relasional :
  1. Model relasional benear-benar mrupakan model data yang lengkap secara matematis.
  2. Memiliki teori ayang solid untuk mendukung accestability, correctness, dan predictability.
  3. Fleksibilitas tinggi – jelas memisahkan model fisik dan logic hingga dengan adanya decoupling(mengurangi ketergantungan antara komponen system)
  4. Integritas – perubahan strukutr data tidak menggangu keutuhan relasi dalam basisdata
  5. Multiple views –  dapat menyajikan secara langsung views yang berbeda dari basisdata yang sama untuk pengguna yang berbeda.
  6. Concurrency – hampir semua teori menganai pengendalin transaksi simultan yang telah ada, dan dibuat berdasarkan teori formalisme milik model relasional
  1. Model Basis Data Hybrid         
  2. Pengertian 1: Struktur data vektor dan struktur data raster dapat dipadukan pada suatu sistem, dengan melengkapi fasilitas konversi vektor ke raster dan raster ke vektor. Selain itu juga disediakan fungsi-fungsi untuk mengolah masing-masing struktur data
  3. Pengertian 2: Data SIG terdiri dari dua bentuk data: yaitu data grafis yang menyatakan entitas obyek dan data attribut. Data grafis yang terdiri dari data koordinat dan data topologi disimpan di berkas yang terpisah dari data atribut.  Data atribut ditangani oleh database management system.  Penggabungan kedua tipe data dilakukan melalui suatu kode identifikasi, misal kode identifikasi poligon, garis atau titik. Hal yang sama juga dapat dilakukan ‘linkage’ antara grid-cell modules dengan database management system.
  4. Pengertian 3: Operasional SIG secara keseluruhan yang terdiri dari SIG software, CAD software, Image Processing software, GPS software, Open-Source components, DBMS system
  1. Model Basis Data Terintegrasi
Pendekatan modael data terintegrasi juga dideskripsikan sebagai pendekatan sistem pengelolaan basis data (DBMS) spasial, dengan SIG yang bertindak sebagai query processor. Kebanyakan implementasinya pada saat ini adalah bentuk topologi vektor dengan tabel-tabel relasional yang menyimpan data-data koordinat peta (titik, nodes, segmen garis, dl.) bersama dengan tabel lain yang berisi informasi topologi. Data-data atribut disimpan di dalam tabel-tabel yang sama sebagai basis data map feature (tabel internal atau abel yang dibuat secara otomatis) atau disimpan di dalam tabel-tabel yang terpisah dan dapat diakses melalui operasi relasioanl “JOIN”.
CATATAN:
Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis (SIG)

Sistem Informasi Geografis sesungguhnya mempunyai arti yang sangat luas dan sukar untuk didefinisikan secara tepat. Beberapa ahli telah mencoba mendefinisikan dari sudut pandangnya masing-masing sehingga muncul beberapa istilah tentang Sistem Informasi Geografis. Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu sistem perangkat yang dapat melakukan pengumpulan, penyempurnaan, pengambilan kembali, transformasi dan visualisasi dari data spasial bumi untuk kebutuhan tertentu (Burrough, P.A., 1986).
Menurut Aronoff (1989) secara umum Sistem Informasi Geografis merupakan sekumpulan prosedur secara manual maupun berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan dan menganalisis data bereferensi geografik.
Dari definisi tersebut maka Sistem Informasi Geografi pada hakekatnya dapat berfungsi sebagai :
  1. Bank data terpadu, yaitu memadukan data spasial dan non spasial dalam suatu Relational Database Management System.
  2. Sistem modeling dan analisa, yaitu sebagai sarana evaluasi potensi wilayah dan perencanaan spasial.
  3. Sistem pengelolaan yang bereferensi geografis, yaitu untuk mengelola operasional dan administrasi yang bereferensi posisi geografi.
  4. Sistem pemetaan berkomputer, yaitu sistem yang dapat menyajikan peta sesuai dengan kebutuhan.
Fungsi-fungsi tersebut di atas dapat berjalan karena GIS memiliki kemampuan dalam mendeskripsi data geografi, data-data geografi yang dapat dideskripsikan oleh GIS adalah :
  1. Data spasial yang berkaitan dengan posisi pada koordinat tertentu.
  2. Data non spasial (atribut) yang tidak berkaitan dengan posisi berupa warna, nama, dan sebagainya.
  3. Hubungan antara data spasial, non spasial dan waktu.
Sistem Informasi Geografis menghubungkan data spasial dengan informasi geografis mengenaifeature tertentu pada peta. Feature yang dimaksud adalah kenampakan obyek dalam peta yang berbentuk titik, garis, atau poligon. Informasi ini disimpan sebagai atribut atau karakteristik dari feature yang disajikan secara grafis (Team RePPMIT Bakosurtanal, 1991).
Komponen Sistem Informasi Geografis
 Komponen dasar Sistem Informasi Geografik terdiri dari empat macam (Arronoff, 1989) :
  1. Pemasukan data (Input data). Pemasukan data merupakan suatu prosedur pengkodean data ke dalam suatu bentuk yang dapat dibaca komputer dan menuliskannya ke dalam basis data Sistem Informasi Geografis. Pemasukan data dengan jalan mengubah data dari format analog ke format digital. Data yang dimasukkan dalam SIG mempunyai dua tipe data yaitu data spasial dan data atribut (data non-spasial). Data spasial menyajikan lokasi geografis suatu kenampakan muka bumi (feature). Titik, garis dan luasan dipakai untuk menyajikanfeature geografis seperti jalan, hutan, persil tanah dan lain-lain. Data atribut menyajikan informasi diskriptif seperti nama jalan, komposisi hutan atau nama pemilik persil. Adapun cara pemasukaan data yang umum digunakan dalam SIG yaitu melaluikeyboard, digitasi dengan perangkat digitizerscanning, koordinat geometri, konversi file data digital.
  2. Manajemen data (Data management). Komponen ini berisikan fungsi-fungsi untuk menyimpan dan memanggil kembali data. Data-data masukan dalam SIG dikelola sedemikian rupa dalam suatu sistem basis data. Basis data didefinisikan sebagai kumpulan data yang saling berhubungan yang disimpan bersama dengan sedikit redundansi serta mampu melayani lebih dari satu pemakai. Organisasi konseptual dalam suatu basis data disebut dengan model data. Ada tiga model data yang dipergunakan dalam mengorganisasi data atribut yaitu : model data hirarki, jaringan dan relasional. Sedangkan model data spasial dapat berupa data vektor dan data raster.
  3. Manipulasi dan analisis data (Data manipulation dan analysis). Dalam fungsi manipulasi dan analisis ini data diolah sedemikian rupa guna memperoleh informasi yang diinginkan dari Sistem Informasi geografis. Manipulasi dan analisis dengan membuat algoritma dari data grafis dan atribut yang berupa tumpang-susun (overlaying) data grafis maupun pengkaitan data grafis dan atribut.
  4. Penyajian Data (Output data). Penyajian data merupakan prosedur untuk menyajikan informasi dari SIG dalam bentuk yang diinginkan pemakai. Output data disajikan dalamhardcopy dan softcopyOutput dalam format hardcopy berupa tampilan permanen, biasanya dicetak pada kertas, film fotografik atau material lain. Output dalam softcopy disajikan melalui layar komputer baik berupa teks atau grafik maupun sebagai langkah guna melihat hasil analisis sebelum dicetak secara permanen.
Data Sistem Informasi Geografi
Data dalam SIG merupakan bahan baku yang diproses oleh Sistem Informasi Geografis sehingga dihasilkan informasi yang menggambarkan kenampakan permukaan bumi (real world). Jenis data geografi dalam SIG terdiri dari :
  1. Data spasial, yaitu data grafis yang berkaitan dengan lokasi, posisi dan area pada koordinat tertentu. Data spasial mempunyai beberapa hubungan geografi, meliputi :
– Geometri, yaitu bagaimana masing-masing elemen data dijelaskan pada hubungan titik, garis, dan lain-lain serta sistem koordinat yang digunakan. Ada tiga model data yang dipergunakan dalam menangani data atribut, yaitu model data hierarki, jaringan dan relasional. Sedangkan untuk organisasi data spasial, dalam SIG kita mengenal 2 macam model data, yaitu model data raster dan model data vektor.
– Topologi, yaitu hubungan satu elemen terhadap elemen yang lain.
– Kartografi, yaitu bagaimana elemen peta ditampilkan pada monitor atau plotter disajikan secara kartografi.
  1. Data non spasial (atribut), menguraikan karakteristik objek-objek geografi dari spasialnya seperti warna, tekstur dan keterangan lainnya.
  2. Hubungan antara data spasial, non spasial dan waktu.
Klasifikasi Feature Peta
Dalam Sistem Informasi Geografi, peta merupakan penyajian data informasi secara grafis dari kenampakan (feature) permukaan bumi. Data atau informasi dari kenampakan permukaan bumi ditampilkan dalam feature peta. Berdasarkan kenampakan karakteristik, feature peta dikelompokan menjadi 3 :
  1. Feature titik, yaitu kenampakan geografis permukaan bumi berupa titik yang dibentuk dari sepasang koordinat yang mempunyai suatu identifier yang menghubungkan ke suatu tabelatribut feature. Contoh feature titik pada peta skala kecil adalah letak kota yang direpresentasikan dengan titik. Isi dari tabel atribut feature titik ini adalah keterangan nama kota, jumlah penduduk dan sebagainya.
  2. Feature garis, yaitu kenampakan geografis permukaan bumi berupa garis yang terbentuk dari serangkaian koordinat yang mempunyai identifier yang menghubungkan ke tabelatribute feature garis. Contohnya adalah feature jalan dan sungai dimana tabel atribut feature-nya berisi nama jalan, panjang jalan, nama sungai, panjang sungai dan sebagainya.
  3. Feature luas, yaitu kenampakan geografis permukaan bumi berupa luasan yang terbentuk dari beberapa rangkaian koordinat dimana koordinat awal dan koordinat akhirnya sama serta mempunyai identifier di dalamnya yang menghubungkan tabel atribut feature luasan. Contohnya adalah batas administrasi kabupaten, kecamatan, desa dan sebagainya. Isi tabel atributnya adalah luas wilayah, keliling, nama batas administrasi dan sebagainya.
Basis Data Sistem Informasi Geografi
 Basis data menurut Aronoff (1989) adalah suatu kumpulan informasi tentang sesuatu yang disimpan di dalam memori komputer yang berasal dari kumpulan data spasial dan data non spasial yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Basis data bertujuan menyediakan informasi dengan data yang terdiri dari kumpulan data yang saling berkaitan satu sama lain.
Dalam sistem informasi geografis, data dikelompokkan dalam dua bagian yaitu data spasial atau grafis yang diperoleh dari hasil digitasi peta dan data non spasial atau atribut yang menerangkan data spasialnya. Perpaduan antara data spasial dan data non spasial ini disebut basis data. Dengan komputer untuk penanganan data tersebut akan memudahkan serta meningkatkan fungsi dari basis data tersebut, hal ini disebabkan bentuk datanya dalam format digital.
Konsep basis data merupakan kekuatan utama SIG yang membedakan dengan sistem pemetaan komputer lainnya yang hanya mampu memproduksi output grafis yang baik. SIG mengorganisasi data geografis dalam suatu basis data.
Basis data SIG menghubungkan data spasial dan informasi geografis tentang suatu featuretertentu pada peta. Informasi geografis ini merupakan data sematis (atribut) yang mendiskripsikan lebih jauh kenampakan feature yang sebenarnya. Konsep hubungan data spasial dan data atribut dalam SIG merupakan implementasi dari model data relasional.
Pada model data relasional, setiap data tersimpan sebagai record (kumpulan nilai yang berdiri sendiri dalam bentuk rekaman sederhana) yang disebut tuple. Semua tuple dikumpulkan bersama dalam suatu tabel dua dimensi dan masing-masing tabel selalu disimpan dalam berkas tabel terpisah. Meskipun demikian tabel-tabel tersebut dapat dihubungkan dengan menggunakan suatu medan umum.
Pengertian Model Data Relasional
Model Relasional merupakan model data yang paling banyak digunakan saat ini. Hal ini disebabkan oleh bentuknya yang sederhana dibandingkan dengan model jaringan/network atau model hirarki. Bentuk yang sederhana ini membuat pekerjaan seorang programmer menjadi lebih mudah, yaitu dalam melakukan berbagai operasi data (query, insert, update, delete, dan lainnya).
Model Data Relasional adalah model basis data yang menggunakan tabel dua dimensi,  yang terdiri dari baris dan kolom untuk menggambarkan sebuah berkas data.
Model Basis Data Relasional dan SIG
Perbedaan penekanan para perancang sistem SIG pada pendekatan basis data untuk penyimpanan koordinat-koordinat peta dijital telah memicu pengembangan dua pendekatan yang berbeda dalam mengimplementasikan basis data relasional di dalam SIG. Pengimplementasian basis data relasional ini didasarkan pada model data hybrid atau terintegrasi.
Model Data Hybrid
Langkah awal pada pendekatan ini adalah pemahaman adanya dugaan atau pendapat bahwa mekanisme penyimpanan data yang optimal untuk informasi lokasi (spasial) di satu sisi, tetapi di dsisi yang lain, tidak optimal untuk informasi atribut (tematik). Berdasarkan hal ini, data kartografi digital disimpan di dalam sekumpulan files sistem operasi direct access untuk meningkatkan kecepatan input-output, sementara data atributnya disimpan did alam DBMS relasioanl lomersial yang standar.
Maka perangkat lunak SIG bertugas mengelola hubungan (linkage) anatar files kartografi (lokasi) dan DBMS (data atribut) selama operas-operasi pemrosesan peta yang berbeda (misalnya overlay) berlangsung. Sementara digunakan beberapa pendekatan yang berbeda untuk penyimpanan data kartografi, mekanisme untuk menghubungkan dengan basis datanya tetap sama secara esensial, berdasarkan nomor pengenal (ID) yang unik yang disimpan di dalam sebuah tabel atribut basis data yang memungkinkannya tetap terkait dengan elemen-elemen peta yang bersangkutan.
Model Data Terintegrasi
Pendekatan modael data terintegrasi juga dideskripsikan sebagai pendekatan sistem pengelolaan basis data (DBMS) spasial, dengan SIG yang bertindak sebagai query processor. Kebanyakan implementasinya pada saat ini adalah bentuk topologi vektor dengan tabel-tabel relasional yang menyimpan data-data koordinat peta (titik, nodes, segmen garis, dl.) bersama dengan tabel lain yang berisi informasi topologi. Data-data atribut disimpan di dalam tabel-tabel yang sama sebagai basis data map feature (tabel internal atau abel yang dibuat secara otomatis) atau disimpan di dalam tabel-tabel yang terpisah dan dapat diakses melalui operasi relasioanl “JOIN”.
Aspek lain didalam penanganan basis data spasial yang bervolume besar adalah kebutuhan mengenai konversi informasi koordinat dua dimensi menjadi kunci-kunci spasial satu dimensi yang dapat disimpan sebagai kolom-kolom (fields) tael basis data (sebagai contoh sejumlah nilai koordinat pada tabel garis dapat dijadikan sebagai satu string panjang di dalam satu kolom (field) koordinat). Kemudian kunci-kunci ini dapat diindekskan untuk mempercepat pemanggilan elemen-elemen peta yang bersangkutan.

ARTIKEL 2 SIDS

KONSEP SISTEM INFORMASI DATA SPASIAL

  • DATA SPASIAL

Data spasial adalah data yang memiliki referensi ruang kebumian (georeference) di mana berbagai data atribut terletak dalam berbagai unit spasial. Sekarang ini data spasial menjadi media penting untuk perencanaan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan pada cakupan wilayah continental, nasional, regional maupun lokal.

Pemanfaatan data spasial semakin meningkat setelah adanya teknologi pemetaan digital dan pemanfaatannya pada Sistem Informasi Geografis (SIG). Format data spasial dapat berupa vector (polygon, line, points) maupun raster.
Salah satu syarat SIG adalah data spasial, yang dapat diperoleh dari beberapa sumber antara lain:
1. Analog adalah,
Peta analog (antara lain peta topografi, peta tanah dan sebagainya) yaitu peta dalam bentuk cetak. Pada umumnya peta analog dibuat dengan teknik kartografi, kemungkinan besar memiliki referensi spasial seperti koordinat, skala, arah mata angin dan sebagainya.
Dalam tahapan SIG sebagai keperluan sumber data, peta analog dikonversi menjadi peta digital dengan cara format raster diubah menjadi format vektor melalui proses dijitasi sehingga dapat menunjukan koordinat sebenarnya di permukaan bumi.
2. Data Penginderaan Jauh adalah,
Data Penginderaan Jauh (antara lain citra satelit, foto-udara dan sebagainya), merupakan sumber data yang terpenting bagi SIG karena ketersediaanya secara berkala dan mencakup area tertentu. Dengan adanya bermacam-macam satelit di ruang angkasa dengan spesifikasinya masing-masing, kita 8 memperoleh berbagai jenis citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format raster.
3. Data Hasil Pengukuran Lapangan adalah,
Data pengukuran lapangan yang dihasilkan berdasarkan teknik perhitungan tersendiri, pada umumnya data ini merupakan sumber data atribut contohnya: batas administrasi, batas kepemilikan lahan, batas persil, batas hak pengusahaan hutan dan lain-lain.
4. Data GPS (Global Positioning System)adalah,
Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan data bagi SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi dengan berkembangnya teknologi. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format vektor.

Pada prinsipnya terdapat dua jenis data untuk mendukung GIS yaitu :
  • Data Spasial
Data spasial adalah gambaran nyata suatu wilayah yang terdapat di permukaan bumi. Umumnya direpresentasikan berupa grafik, peta, gambar dengan format digital dan disimpan dalam bentuk koordinat x,y (vektor) atau dalam bentuk image (raster) yang memiliki nilai tertentu.

·         Data Non Spasial (Atribut)

Data non spasial adalah data berbentuk tabel dimana tabel tersebut berisi informasi- informasi yang dimiliki oleh obyek dalam data spasial. Data tersebut berbentuk data tabular yang saling terintegrasi dengan data spasial yang ada.